Kamis, 22 Juli 2010

REALLY KICK ASS

"Ternyata ada juga manusia yang mau membuat film seperti ini..."
Pendapat di atas muncul setelah selesai menonton sebuah film "spektakuler" yang bertema superhero ini...
Yah, sebenarnya tidak se-spektakuler SPEKTAKULER, tapi bisa dikatakan seperti itu lah...

But, this is definitely a hot movie...

Ehem, film yang satu ini tidak patut dikonsumsi oleh anak-anak. Dan film yang satu ini juga tidak layak bagi orang-orang dewasa yang terlalu sopan. Ini jelas-jelas bukan film pop. Anda tahu mengapa?
Pertama, karena film ini digarap secara indie (independen); kedua, karena cerita film ini adalah sebuah terobosan. Well, maksud saya terobosan adalah benar-benar terobosan. Di sini terdapat hal-hal yang mengejutkan, nakal, heboh, dan tak terduga, yang belum pernah ada di film-film lain. Orisinil.

Kick-Ass (2010) mengisahkan seorang anak SMA yang mengubah dirinya menjadi sosok "superhero" demi mewujudkan impiannya untuk membela kebenaran dan menolong orang lain. Naif? Sangat. Dan itu yang membuat film ini begitu unik. Sebuah ide untuk menciptakan seorang superhero, tapi tanpa kekuatan super sama sekali, dan dibintang-utamai oleh seorang anak sekolahan. Dangkal? Tidak. Tidak sedangkal yang anda kira. Kick-Ass adalah film yang trendi dan penuh style. Tidak meninggalkan kehidupannya sebagai seorang pemuda, kehidupannya sebagai "superhero" juga digarap dengan oke.

Film yang penuh warna ini, mengemas action dengan sangat baik. Mempunyai beberapa tokoh superhero gadungan (Kick-Ass, Red Mist, Big Daddy dan Hit Girl) yang mendapat porsi akting yang pas, serta eksekusi akting yang pas pula. Matthew Vaughn, sebagai sang sutradara, inovatif dalam menggarap semua struktur dan unsur film. Hampir tanpa cacat cela sedikit pun! Well, sebagai film adaptasi komik, dan berlabel film action, film ini patut dapat rating tinggi. Walaupun indie.

Lalu, sekali lagi, apakah yang membuat film ini spesial? Yah, coba saja tonton sendiri. Tetapi saya akan memberitahu 2 hal yang paling menarik dari film Kick-Ass ini:

1. funky style => Tidak akan ada kata bosan dalam menonton film ini. Nuansa warna warni komik pun disajikan dengan menu yang pas. Termasuk warna merah darah; film ini tidak segan-segan memuncratkan darah dengan cara sekeji-kejinya bila diperlukan. Musik? Musiknya sangat menyatu dengan adegan aksinya. Dan gaya dialognya khas anak muda Amerika.

2. Hit Girl => Ini adalah nama salah satu tokoh dalam film ini. Ada apa dengan dia? Sangat ada apa-apanya. Ia adalah seorang "superhero" yang kuat dan tangguh; namun ia masih berumur 12 tahun, dan ia adalah perempuan... Silahkan saksikan kesadisannya, dan plis...jangan pelajari umpatan-umpatannya....haha.

Oke,
lalu apakah ketika anda menonton Avatar, anda teringat The Matrix? Apakah ketika anda menonton Waterworld, anda teringat dengan Mad Max?
Dijamin, ketika anda menonton Kick-Ass, anda hanya akan teringat SEDIKIT tentang Batman...

Senin, 14 Juni 2010

I AM NOT KHAN

Hi! Long time no read!


Persetan dengan Khan! You got me boring, dan ternyata kamu juga tidak original!

Saya percaya tidak ada yang original di dunia ini selain Tuhan. Tetapi saya menjadi tidak senang jika ada seseorang MENIRU ciri khas seseorang. Yang ditiru adalah pakemnya. Ciri khasnya. Yang ditiru adalah "bagian kerennya". Wow, saya tidak suka sekali dengan orang-orang peniru seperti itu; apalagi jika yang ditiru adalah punya saya.

Hmm.....memangnya apa sih masalahnya?

I don't know exactly. Yang jelas, setelah saya menonton film ini, My Name Is Khan (2010) menjadi terlihat seperti sampah. Saya telah membahas Khan tepat di 2 postingan saya yang lalu. Saya melihatnya sebagai film yang just so-so, film yang tidak punya "gigitan" tersendiri. Nah, untuk film saya yang kali ini, walaupun ratingnya di internet nyaris sama dengan Khan, saya sangat salut padanya.

I Am Sam (2001) menceritakan kehidupan seorang penderita down syndrome dan autisme, dalam memperjuangkan hak asuh atas anak perempuannya satu-satunya.

Exactly! Kedua film di atas mengangkat kisah seorang penderita autisme plus cacat mental. Inilah yang membuat saya tersentak kaget, lalu sadar bahwa Bollywood ketinggalan 9 TAHUN tepat di belakang Hollywood. Well, ini saya tela'ah dari tahun edar kedua film ini (2010 & 2001). 2010 dikurangi dengan 2001 sama dengan 9! Wow, betapa pintarnya saya.

Saya sangat yakin bahwa Shahrukh Khan belajar banyak dari Sean Penn soal memerankan orang yang cacat mental; dari cara berjalan, cara berbicara, cara marah, cara tertawa. Saya menyadari bahwa akting Penn sangat brilian. Hal inilah yang paling menonjol dari film I Am Sam. Apakah ceritanya membosankan? Tentu tidak. Menarik. Kisah perjuangan seorang ayah memperjuangkan hak asuh atas anak kandungnya. Ini menjadi menarik ketika sang ayah ternyata adalah penderita cacat mental, dan Dakota Fanning berperan sebagai sang anak, sekaligus ada Michelle Pfeiffer di situ.

Kalimat yang paling mengena dari film ini bagi saya adalah pada adegan Sam "bernegosiasi" dengan Rita di kantornya, untuk menyewanya menjadi pengacaranya. Oke, saya jabarkan:

Rita : "Can we get you something to drink?"
Sam : "Is it for free?"
Rita : "(hehehe..)My treat.."
Sam : "Ow ok. Thank you...Yeah, I would like a glass of milk.."

Yang saya tebalkan adalah kalimat favorit saya. Kenapa?? Apakah ada yang penting di kalimat itu...? Ada. Yaitu kata "Milk".

Karena, tepat 7 tahun setelah I Am Sam (2001), Sean Penn berperan sebagai Milk di film Milk (2008). Itu berarti, 7 tahun sebelum pembuatan Milk, Sean Penn telah tahu bahwa ia akan memerankan Harvey Milk.

Apakah itu sebegitu pentingnya bagi rajananbaek?

Yah, lumayanlah...Karena itu adalah film yang akan saya bahas selanjutnya di blog ini. Hehehe.




Senin, 17 Mei 2010

HAPPY ANNIVERSARY!

16 Mei 2010 adalah hari ulang tahun pertama blog rajananbaek: the man behind the scene. Dan saya selaku pendiri, pemrakarsa, penulis, dan pembaca (:P) blog ini turut bersyukur dan mengucapkan......


MAT ULTAH YEEE...!



keep on watching movies, keep on dreaming, keep on/off on the lamp switch!!!

and then: HURRAAYYY!!

Rabu, 12 Mei 2010

MY NAME IS SHAHRUKH

I hate Bollywood....Namun saya ragu apakah film yang satu ini termasuk dalam kategori film "Hollywood versi India" tersebut, ataukah sudah layak disebut sebagai film Hollywood asli. Terserah mereka saja lah, saya hanya berharap bahwa film ini bagus. Sejak perilisannya di Indonesia, sekitar bulan Februari yang lalu, sudah banyak yang mengatakan bahwa film ini bagus. Oleh karena itu saya ingin berkomentar sedikit mengenai film ini...

Kemarin saya cukup heran, mengapa ada sebuah film India yang nongol di daftar penayangan film di bioskop di kota saya. Well, berarti film tersebut sudah bertaraf internasional atau tidak sekedar ditayangkan di negara asalnya saja. Yah, memang masih diproduksi oleh perusahaan film India, namun distribusinya diperani oleh orang-orang Amerika. Hal ini juga tentunya memberikan jaminan, bahwasanya kualitasnya dapat lebih baik daripada film-film sejenis yang ditayangkan di televisi, dan dianggap mampu berkompetisi dengan film-film Amerika lainnya.

Tepat 2 tahun lalu, sudah ada sebuah film dari negeri ini yang menorehkan prestasi luar biasa di kancah perfilman Hollywood. Menyabet 8 Oscar sekaligus, menyebabkan Danny Boyle (juga sutradara The Beach) mendapatkan puja-puji dari para kritikus dan penonton film. Sebuah film yang indah secara visualisasi dan penceritaan, serta akting para aktornya patut diacungi jempol, merupakan sebuah karya yang tak diduga-duga akan sangat menggugah. Wow. Slumdog Millionaire (2008) memang sebuah tontonan yang asyik dan menggugah rasa penasaran bagi yang menontonnya.

Kali ini giliran My Name Is Khan (2010) yang dijual kepada khalayak ramai di seluruh dunia. Apakah bagus? Jawaban saya: Bagus, tetapi masih kalah dengan Slumdog..

My Name Is Khan bercerita mengenai petualangan seorang pria Muslim India pengidap autis dan sindrom aneh di Amerika. Film ini mengangkat isu agamis dan terorisme dengan menggunakan insiden 9/11 sebagai penyebab masalah utama, walaupun tidak disebutkan tahun kapan kejadian tersebut terjadi. Isu ini memang tidak hangat lagi, namun inilah yang ingin di"dramatisasi" oleh si pembuat film agar penonton tersentuh hatinya dan agar kita ingat bahwa kebaikan seseorang tidak dinilai dari agama yang ia anut, tetapi dari perilaku yang ia punya.

Setelah saya amati, Khan mempunyai beberapa kemiripan dengan Slumdog; apakah disengaja atau tidak, saya tidak tahu.
  • Alur ceritanya sama-sama maju-mundur dan dinarasikan oleh tokohnya sendiri, walaupun Khan lebih elastis dalam penceritaannya.
  • Kisah tokoh dimulai ketika ia kanak-kanak.
  • Kedua tokoh utama mempunyai kecenderungan dalam hal keunggulan intelejensia.
Mengikuti drama panjang seperti My Name Is Khan ini, cenderung dapat terjebak dalam kebosanan. Pada awal film, ciri khas Hollywood sudah tampak dalam pengambilan gambarnya. Pada pertengahan film, saya merasa bahwa ceritanya mulai mengada-ada. Dan pada akhirnya, si Khan itu sendiri sudah terkesan seperti pahlawan saja, padahal tujuan awalnya hanya ingin bertemu Pak Presiden saja. Plotnya memang tidak kacau alias masih nyambung, tetapi saya rasa sudah agak melenceng dari tema semula. Well, sepertinya sang sutradara ingin mendramatisasikan/mencarikan simpati bagi sang tokoh (yang polos dan autis ini) di mata para penonton dengan menjadikannya kesayangan masyarakat. Usaha yang bagus dari penulis naskah film ini untuk merancang pertemuan si Khan dengan sang presiden, walaupun menurut saya ada cara yang lebih bagus lagi. Secara keseluruhan, film ini menghibur, walaupun ada beberapa adegan tak penting yang terkesan berlebihan. Dan patut disyukuri, tidak ada adegan tari-menari di film ini.

Terlalu banyak fokus juga tidak baik. Tetapi hal ini bisa disiasati dengan menambah durasi film agar tidak ada plot yang mengambang. Resikonya ya...bosan.

Rabu, 21 April 2010

EXORCISTING

Oke, sekarang kita akan membahas tentang seorang gadis yang kerasukan setan. Seram? Ah tidak juga (walaupun saya sekarang sedang sendirian di ruangan ini, menulis, dan ini pada larut malam). Tidak, selama ada facebook...hahaha.

Exorcism adalah suatu tata cara pengusiran setan terhadap seseorang yang dirasukinya. Bila kita bicara tentang "tata cara", berarti ada proses yang perlu dijalani. Entah itu peralatan-peralatan yang perlu dipersiapkan, doa-doa yang akan dipanjatkan, ataupun pihak-pihak tertentu yang berhak melakukan ritual tersebut. Yah, begitulah adanya; exorcism dipandang sebagai hal spesifik yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu (mis: priest) walaupun fenomena ini jarang terjadi di masa-masa sekarang ini.

The Exorcist (1973) mengisahkan tentang peristiwa kesurupan yang dialami seorang gadis muda, yang mengakibatkan gejala-gejala dan efek mengerikan dan peristiwa penyiksaan terhadap diri sendiri.

Ternyata film ini menelurkan 2 piala Oscar untuk debutnya. Padahal jika diamati, ada beberapa plot yang tidak berkesinambungan. Boleh dikatakan bahwa sang sutradara (William Friedkin) ingin film ini terlihat begitu artistik dan elegan untuk sebuah film horor, walaupun mengorbankan beberapa plot yang tidak "kena" kepada inti cerita. Memang ada kaitannya dengan inti cerita, tetapi penonton harus menerjemahkan sendiri makna gambar-gambar dan adegan (terutama di awal film) agar nantinya penonton tidak terpatok kepada doktrin-doktrin kepercayaan tertentu ataupun hal-hal mistis lain yang tidak penting. Ya, sang sutradara mencoba memberitahukan kepada penonton bagaimana sejarah masing-masing tokoh, sehingga nantinya dapat digabungkan ke cerita inti. Sebenarnya inti cerita film ini adalah kegiatan exorcism tersebut. Yang pada akhirnya, di film ini, adegan tersebut diporsi cukup panjang. Cukup menarik memang menyimak alur film yang "naik-turun" yang menyajikan ketakutan saat melihat Regan (gadis yang dirasuki) sekaligus "kesenduan" yang dimiliki oleh tokoh-tokoh lainnya.

The Exorcist tidak mengungkapkan mengapa Regan yang harus dirasuki. Dan pemunculan gimmick logo, patung dan gambar setan, sebenarnya tidak bermakna. Mungkin hanya digunakan sebagai "pemanis" cerita. Yang justru menarik adalah adegan "sirkus" yang dilakukan oleh Regan yang sedang kerasukan, baik itu melakukan aksi telekinetik, melayang, memutar kepala 360 derajat, memuntahkan cairan hijau, dan lain-lain, yang sebenarnya sangat mengerikan, tapi entah kenapa saya mengatakannya sebagai "sirkus"...

Ternyata ada film maker yang berpikir untuk membuat prekuel tentang Father Merrin, sang pendeta yang mengadakan exorcism untuk Regan. Ini diangkat dalam Exorcist: The Beginning (2004). Ada juga film lain yang katanya diangkat dari kisah nyata, yaitu The Exorcism of Emily Rose (2005), yang juga mengangkat tema serupa. Eitss, ada juga Scary Movie 2 (2001) yang memparodikan 2 adegan di The Exorcist dengan sangat ekstrem.

Hmm, apa ya kata penutup dari saya...
Setan hanya akan merasukimu jika kau mengundangnya.

Jumat, 26 Maret 2010

AKITA-LOVERS


Mengangkat cerita tentang keakraban seseorang dengan seekor anjing yang dipungutnya. Anjing jenis "Akita" adalah anjing khas Jepang yang konon sudah menjadi teman bagi manusia semenjak zaman kekuasaan Shogun.

Hachiko: A Dog's Story (2009) merupakan pengobat rindu bagi anda-anda yang gemar menonton film mengenai hewan peliharaan. Hachiko bukan anjing yang bisa bermain basket ataupun sepak bola -sedangkan bermain lempar bola kecil saja ia tak mau, apalagi bola-bola yang lain-. Tokoh anjingnya diperankan oleh anjing (ya iyalaaahh..) yang tergolong cute. Gak kalah deh sama anjing-anjing jenis lainnya. Kisah Hachiko dibalut oleh drama penuh; tanpa comedy, juga tanpa action. Sama sekali tidak ada.

Lalu apakah itu menjadikan film ini membosankan? Tidak. Jika anda ingin melihat kedalaman relationship antara majikan dan peliharaannya, film ini bisa menjadi inspirasi. Ketika larut dalam penceritaan film ini, saya menjadi penasaran terhadap apa yang akan terjadi dengan para tokoh (sehingga tidak sempat merasakan kebosanan saat menonton), dan satu strike saja/satu plot saja, sudah cukup menjadi konflik yang mantap di film ini. Tiba-tiba keharuan muncul, dan akhirnya akan berujung pada rasa simpati terhadap sang anjing. Wow, tidak perlu dialog yang "wah" dan twist yang MEGAH untuk menciptakan suatu drama yang bagus. Dan tidak perlu mengajari Hachiko cara mengambil bola demi menjadikan ia anjing yang setia.

Selasa, 16 Maret 2010

POOR OLDMAN

Sebuah film Korea, Oldboy (2003), mengisahkan seseorang, yang tanpa alasan yang jelas, telah dipenjara selama 15 tahun, yang akhirnya dilepaskan, juga tanpa alasan yang jelas, yang tentu saja mengundang ia untuk mencari alasan tersebut.

very depressing movie.

Ini adalah film yang bagus. Selama ini saya enggan untuk menonton film-film Korea karena takut terjebak pada kisah cinta yang basi. Ya, saya memang mempunyai koleksi beberapa film Korea dari dulu, dan asal anda tahu, KEBANYAKAN kisahnya mengenai romantika percintaan. Mungkin saja perfilman Korea dianggap kreatif dalam hal mendramatisir dan mereka-reka kisah romantisme; tapi saya pribadi ingin suatu hal yang baru. Pada kenyataannya Oldboy dirilis tahun 2003. Itu artinya...udah lama banget!! Sekitar 6 tahun lalu. Berarti sayalah yang salah: "kok gw gak nemuin film sebagus ini dulu? Kok malah dapet film-film biasa doang??" Ataukah karena film seperti ini memang jarang?



Tentu saja Oldboy adalah film yang dewasa. Dari semua sisi! Tentu saja satu sisi akan hilang jika anda hanya menontonnya di sebuah benda kotak bernama televisi...(ehem..). Drama dan thriller (bahasa Indonesianya "thriller" apaan sih?!) adalah yang paling ditekankan di film ini. Akting pemeran utamanya...mengesankan. Benar-benar membawa kita ke tingkat depresi yang ia miliki. Jika anda hanya ingin tertawa atau melihat jagoan terbang-terbang, bukan di sini tempatnya. Di sini anda hanya akan melihat orang stres membawa-bawa palu dan memakan cumi-cumi hidup-hidup.



Visualisasinya sangat menginspirasi. Ketika saya melihatnya, saya berpikir "ya Tuhan...". Apakah karena jelek? Bukan! Karena sekarang saya tahu rahasia Stephen Chow. Kelihatan sekali bahwa teknik sinematografi yang digunakan oleh film-film Stephen Chow (seperti Shaolin Soccer dan Kung Fu Hustle) mempunyai kemiripan dengan film ini. Saya tidak dapat menjelaskannya secara rinci dalam tulisan, tetapi saya belajar bahwa untuk mendapatkan gambar yang bagus, tidak harus bergerak dan penuh efek visual, tetapi cukup still saja dan punya blocking yang bagus. Film-film Korea yang bagus seperti ini sangat mempengaruhi Chow. Saya berani taruhan.

Satu kata yang terseruak dalam benak setelah menonton film ini adalah: tragis. Ini semua tentang kebencian, amarah, gunjing/gosip, dan tentunya tentang cinta. Dan satu lagi: tentang hypnosis.